Selasa, 06 Januari 2015

Crysantinum :: Fanfiction VIXX - Rainbow :: Part 1


Cast                 :  Lee Jae Hwan A.K.A Ken VIXX
                           Oh Se Mi A.K.A Seungah Rainbow
                           Kim Seok Jin A.K.A Jin BTS
                           Bang Min Ah A.K.A Minah Girls Day
Other Cast      : Find it
Lenght             : Part
Rating              : PG-15
Genre              : Family, Romance, Sad etc.
Author             : ISTRI BYUN BAEK HYUN A.K.A YK
Disclaimer        : Tuhan yang maha ESA, semua cast milik orang tuanya. Ini OOC, EYD berantakan, maafkan kami/? Don’t be silent reader yoooo don’t copy paste waks

Summary         : Jaehwan seorang anak yang sama sekali tidak menganggap istri baru ayahnya sebagai ibu tirinya. Seungah yang tak bisa melihat dianggap Jaehwan mirip dengan ibu kandungnya.

CHECK THIS OUT



"Selamat pagi, Seoul."
"kali ini aku tidak yakin kalau florist diluaran sana akan menjual bunga kesukaanmu."

        Entah sudah berapa lama dia berkicau layaknya burung gereja yang setia bertengker di pepohonan kecil halaman rumahnya. Walaupun tanpa ada balasan dari lawan bicaranya, tetap saja sosok orang bermata coklat itu berbicara.

"sampai kapan kau akan diam? atau perlukah aku mencarikanmu wanita agar aku bisa menikahkanmu sekarang juga huh?" omel orang itu.

JRENGGG....
Sengaja jarinya dihentakkan pada senar gitar yang sedari tadi dipangkuannya.

"Bisakah kau diam, Kim Seok Jin."
 Orang yang bernama Seokjin ini langsung meletakkan gitarnya dan mencengkram erat kerah lawan bicaranya.

"Ya! Memangnya kau anggap apa aku.Seharusnya kau bangga ada yang mengajakmu berbicara, Lee Jae Hwan!!" Lawan bicara Seokjin yang bernama Jaehwan itu melepaskan paksa tangan Seokjin yang mencengkram kerahnya. Dengan tatapan malas, matanya menatap dalam Seokjin Tubuhnya beranjak naik seiring Jaehwan yang balik menatapnya.

"Aku sedang tidak mood berkelahi denganmu. dan aku juga tidak berharap kau berbicara denganku. Jadi janganlah merasa beruntung." Ujar Jaehwan seraya meninggalkan Seokjin sendirian di balkon rumah laki-laki itu. Dengan rasa gemas/?, ingin sekali Seokjin memukul belakang kepala Jaehwan. Barulah Seokjin membuat kuda kuda untuk memukulnya, namun Jaehwan telah membalikan badannya sehingga kini Seokjin bergaya kikuk.

"Satu lagi, Jangan pernah panggil aku Jaehwan lagi karena kau tau jawabannya." Ucap singkat Jaehwan yang kini benar benar menghilang di hadapan Seokjin. Seokjin yang telah terjatuh akibat gerakan kikuknya hanya bisa menganga dan menyimpan rasa kesal melihat Jaehwan yang berbeda kali ini.

-------------

"Bagaimana masakan eomma? enak bukan?" Tanya seorang wanita tua pada anaknya yang bermata coklat itu.

"Enak eomma, sejak kapan eomma mencoba resep baru huh?" tanya anaknya sambil mengemut emut sumpit yang di pegangnya.

"Eomma kemarin ikut pelatihan di televisi. jadi eomma tertarik mencobanya, Seokjin-ah." ujar eomma seraya menuangkan sup siput ke dalam mangkuk yang lain. Seokjin yang mendengarkan cerita eommanya langsung melemparkan senyum.

"Jaehwan-ah, bagaimana masakan eomma hum? kau menyukainya kan?" tanya eomma pada Jaehwan. Jaehwan yang mendengar nama panjangnya tersebut langsung menghentikan dentingan sendok yang dia pegang.

"Sudah ku bilang, jangan pernah panggil aku Jaehwan." ujar Jaehwan sambil menatap wanita tua itu. Seokjin hanya bisa terkejut mendengar kata kata itu terlontar di mulut pria bermata kecoklatan yang duduk tepat di depan Seokjin.

"Ken-ah!" pekik Seokjin sambil membulatkan matanya pertanda tak menerima ucapan Jaehwan. Wanita tua yang berdiri itu langsung memegang bahu Seokjin khawatir anak anaknya berkelahi.

"ah, jangan Seokjin-ah. eomma yang salah, eomma lupa untuk memanggil Jaehwan dengan sebutan Ken." ujar eomma seraya mendudukan dirinya. tampak wajah risih yang terpancar pada wajahnya. Jaehwan hanya bisa diam sambil menatap mangkuk sup di depannya.

"bbb....bagaimana ken-ah?" tanya eomma gugup.

"Tak perlu gugup padaku, kau tak salah. Supmu enak.................eommonim." jawab Jaehwan sambil melemparkan senyum simpul di bibirnya. Eomma turut tersenyum mendengar ucapan Jaehwan walaupun terkesan formal.

"Kapan Appa Lee ada waktu kosong? aku ingin mengajak kalian untuk makan malam bersama managerku." ujar Seokjin. Belum sempat eomma menjawabnya, tiba tiba Jaehwan beranjak dari kursinya. Lagi lagi eomma dan Seokjin terkejut melihat tingkah aneh Jaehwan.

"Aku permisi ingin keluar, eommonim. Annyeonghashimnikka." Ujar Jaehwan. Eomma dan Seokjin hanya bisa mengangguk kaku di hadapan Jaehwan.

-------------

          Jaehwan berjalan menyusuri jalan yang ramai akan orang disekitarnya. Angin yang cukup kencang membuat surai kecoklatannya menutupi mata lurus miliknya. Daun daun yang berasal dari pohon mapple kemerahan pun turut berjatuhan dan menjatuhi dirinya karena memang saat ini adalah peralihan menuju musim gugur. Jari panjangnya mengambil daun mapple yang mengenai ujung sepatunya. Meraba tulang tulang daun mapple sambil menunjukkan senyum miris. Sesekali menghela nafasnya yang beradu dengan angin didepannya.

"Apa mungkin bunga itu sudah tak ada yang jual. Seokjin pasti berbohong padaku. Aku yakin bunga itu masih ada yang menjualnya di sekitar sini." Jaehwan langsung melangkahkan kakinya penuh semangat. Arah matanya diedarkan keseluruh kedai yang dia lewati. Hingga akhirnya Jaehwan menghentikan langkahnya. Dia mulai meyakini ucapan Seokjin. Tiba tiba saja pandangannya tertuju pada florist pinggiran jalan yang hampir tutup. Dengan cepat Jaehwan berlari menuju florist tersebut.

"Tunggu sebentar! Nona Tunggu!" ujar Jaehwan terburu buru sambil memegang lengan seorang perempuan di depannya.

"Ah iya? ada apa?" tanya perempuan itu seraya melepas pegangan Jaehwan perlahan.

"Maaf, apa floristmu menjual bunga Chrysantinum?" Tanya balik Jaehwan dengan wajah penuh pengharapan. Perempuan itu langsung terperangah mendengar Jaehwan.

"Tunggu sebentar aku ingin melihatnya di daftar bukuku." jawab perempuan itu. Jaehwan mengiyakan ucapan perempuan yang dihadapannya.

          Perempuan itu langsung mengeluarkan buku yang tertulis buku daftar bunga yang dijualnya. Jari jemarinya meraba setiap lubang lubang kecil yang menandakan sesuatu di dalamnya. Jaehwan mendekati perempuan itu, dirinya terkejut melihat apa yang perempuan itu baca.

"Kau membaca huruf braille?" tanya Jaehwan sambil menatap mata perempuan itu. Kelima jarinya melambai lambai memastikan apa yang dia katakan. Tentu saja perempuan itu tidak merespon padahal mata bulatnya terbuka lebar.

"Ah, aaku tidak bisa melihat tuan." Jawab perempuan itu sambil meraba buku daftarnya.

"Kalau begitu aku minta maaf, aku tidak sengaja bertindak tidak sopan pada tatapanmu" Ujar Jaehwan sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal sekalipun.

"Ah iya, gwaenchanha. Sepertinya Krisantinum yang tuan cari masih ada." Perempuan itu kembali menutup bukunya dan beralih mengeluarkan sebuah kunci dari saku jaketnya.

"Benarkah? ahh kalau begitu aku ingin membelinya." Jawab Jaehwan dengan sumringah bahagianya.

"Kalau begitu mari masuk ke dalam. Agar tuan bisa memastikan keadaan krisantinum yang ada." Perempuan itu pun beranjak dari papan yang menjadi daftar bunga baru kemudian berjalan menuju pintu tokonya. Setelah mereka berdua masuk kedalam, langsung saja bunga yang diharapkan Jaehwan tertata rapi di depan jendela. Jaehwan tak henti hentinya melemparkan senyum bahagia karena mendapatkan bunga itu.

-----------

"Semuanya telah lunas. jadi ke alamat manakah yang akan aku kirim?" Tanya perempuan itu. tangannya meraba sebuah pulpen di saku jaketnya lagi.

"Kirim ke rumahku." Jawab Jaehwan yang sedang melihati perempuan itu. Tentu saja dia masih tidak percaya kalau dia buta.

"Sebutkan alamatnya tuan?"

"Kemari, biar aku saja yang menulisnya." Dengan cekatan dia menuliskan alamat rumahnya dan memberikannya kepada sang pengirim.


"Sudah aku kirim." lanjut Jaehwan hingga kembali duduk di hadapan perempuan itu.

"Ah benarkah? Aku sangat berterima kasih padamu tuan. Karena telah membantuku." Sebuah senyuman terlempar dari bibir mungil perempuan itu. tangannya pun turut memegang jemari Jaehwan sebagai tanda terimakasih. Jaehwan langsung membulatkan matanya terkejut. Tenggorokannya cekat sehingga tak bisa membalas perkataan perempuan buta itu.

"A..aah aku juga berterimakasih padamu karena kau masih berjualan bunga itu padaku." Jawab Jaehwan sambil memegang balik jemari perempuan itu yang sekarang sudah melemparkan senyum manisnya.

"Baiklah, Jaehwan-ssi." ucap perempuan itu.

"hmm, sebelum aku pulang. Boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya Jaehwan sambil membantu perempuan itu mengunci tokonya.

"Seungah imnida, Yoon Seung ah." Jawab Perempuan itu sekejap.

"Ah, Seungah. Baiklah, Kau bisa pulang sendiri kan? Seungah-ssi?" Tanya Jaehwan lagi. Langsung saja perempuan yang bernama Seungah itu menganggukan kepalanya.

"Sudah 10 tahun aku disini. Dan aku pasti mengingatnya." Jawab Seungah pasti. Jaehwan tersenyum mendengarnya.

"Baiklah, aku pulang dulu karena masih ada yang harus aku kerjakan. Annyeong, Seungah-..........ssi." Ujar Jaehwan sambil menggoncangkan tangan Seungah agar menyadarinya dan seketika dibalas dengan bungkukan Seungah.

------------

           Suara khas klakson mobil telah berbunyi menandakan kalau seorang tuan rumah sudah kembali dari pekerjaannya. Muncul di depan pintu seorang wanita tua dengan guratan khas yang mulai muncul tersenyum sambil menghampiri sang tuan rumah yang berjalan ke hadapannya.

"Sayangku Cha Seoyoung, aku merindukanmu." ujar sang tuan rumah sambil mencium kening istrinya.

"Aku juga suamiku. Bagaimana keadaan kantormu?" Tanya sang istri.

"Semua berjalan lancar. oh ya dimana Jaehwan dan Seokjin?"

"Tadi Seokjin sedang pemotretan sebuah majalah seragam sekolahnya. dan Jaehwan, Katanya dia sedang keluar, mungkin dia sedang mencari krisantinum kesayangannya." Panjang istri tuan rumah pemilik salah satu perusahaan elektronik terbesar di Korea.

"Jaehwan, anak itu benar benar. Percuma saja aku membuang semua benda masa lalu mendiang istriku dulu. tapi tetap saja dia seperti ini." Kesal sang tuan rumah sambil menopang tangan di pinggangnya. Tiba tiba saja sebuah mobil datang dengan cepat menuju lobi rumahnya. Tanpa lihat sesuatu, mobil tersebut seketika saja menabrak sebuah keranjang di depannya membuat sang tuan rumah dan istrinya langsung terperangah melihat sebuah keranjang yang terpental jauh dan isinya yang berhamburan.

"Appa lee, eomma, apa yang baru saja aku tabrak?" tanya seorang yang keluar dari pintu mobilnya dan menghampiri keranjang yang di tabraknya.

"Eomma juga tidak tahu Seokjin-ah."

"Krisantinum?" ujar orang yang bernama Seokjin seraya menyentuh batangan patah bunga di hadapannya. Dia pun meninggalkan keranjang itu dan memasuki rumah.

"Jadi ini milik Jaehwan?" tanya wanita tua itu.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA BUNGAKU?!" Seseorang langsung berlari menghampiri Seokjin dan eommanya. Menumpukan sikut kakinya ke tanah. Tiba tiba saja dia terdiam melihat bunga yang baru saja ia beli sudah berhamburan dan jarang yang berbentuk. Bibirnya bergetar saat dia memegang dahan patah dari bunga itu.

"Eomma." Ucap orang itu pelan.

"Maafkan Seokjin, Ken-ah" ucap wanita tua seraya memgang bahu orang bernama Jaehwan itu. Jaehwan kini meremas bunga yang telah rusak dan seketika dia bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju dalam rumah.

BUGHH

         Jaehwan berhasil memukul pipi kiri Seokjin yang sedang meminum sekotak susu murni dari kulkasnya. Dan tentu saja susu itu belum sempat tertelan olehnya. Tangannya mencengkram keras lingkaran leher t-shirt yang digunakan Seokjin.

"Kau ini apa apaan, Lee Jae Hwan!!" Pekik Seokjin sambil menyentuh pipinya yang kemerahan.

"Kau bilang apa apaan?! Kau apakan bungaku hah! Mulai sekarang aku ingin berkelahi denganmu!" Teriak Jaehwan yang lagi lagi memukul Seokjin tepat bagian perutnya. Kini Seokjin langsung menarik kursi makan karena tak sanggup menopang badannya karena kesakitan.

"Aku hanya tak sengaja menabraknya! Bukankah itu hal sepele? lagi pula tak banyak yang rusak!!" Ujar Seokjin disela sela ringisannya. Kaki panjangnya diayun kencang ke depan mengenai perut Jaehwan. Dan kini mereka berdua meringis, dengan cepat Jaehwan bangkit dari sungkurannya.

"Kau bilang ini sepele? Kalau kau merusak bunga Krisantinum, sama saja kau menghina ibuku!"

---------------

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar