Selasa, 27 Januari 2015

 

Crysantinum :: Fanfiction VIXX - Rainbow :: Part 2

 


 Cast                : Lee Jae Hwan A.K.A Ken VIXX
                          Oh Se Mi A.K.A Seungah Rainbow
                          Kim Seok Jin A.K.A Jin BTS
                          Bang Min Ah A.K.A Minah Girls Day
Other Cast      : Find it
Lenght             : Part
Rating              : PG-15
Genre              : Family, Romance, Sad etc.
Author             : ISTRI BYUN BAEK HYUN A.K.A YK
Disclaimer        : Tuhan yang maha ESA, semua cast milik orang tuanya. Ini OOC, EYD berantakan, maafkan kami/? Don’t be silent reader yoooo don’t copy paste waks

Summary         : Jaehwan seorang anak yang sama sekali tidak menganggap istri baru ayahnya sebagai ibu tirinya. Seungah yang tak bisa melihat dianggap Jaehwan mirip dengan ibu kandungnya.


Happy reading guys. leave a your coment after your read!!
 
"Kau bilang ini sepele? Kalau kau merusak bunga Krisantinum, sama saja kau menghina ibuku!"
Seokjin terdiam mendengar ucapan Jaehwan. Terasa berat dirinya untuk mengambil nafas sesekali saja. Jaehwan sendiri menatap tajam mata coklat Seokjin. Tiba tiba saja sang tuan rumah datang dengan wajah terkejutnya. Melempar sebuket bunga Krisantinum yang masih terlihat sehat yang mungkin saja tidak terkena langsung tabrakan mobil Seokjin.
"Berhenti Seokjin, Jaehwan!!" Amarah Sang tuan rumah meluap seiring Jaehwan yang memungut sebuket bunga di lantai rumahnya. Seokjin segera bangkit dari kursi makan dan menatap tuan rumah yang sudah beruban itu datar. Jaehwan menatap nanar pria tua itu, tangannya kembali bergetar.
"Bagaimana bisa berhenti appa, aku takkan rela bunga kesayangan ibu dirusak seperti ini." Jawab Jaehwan sambil menunjuk beberapa kali sebuket bunga itu pada tuan rumah yang memang appanya sendiri.
"Wanita di sampingku ini juga ibumu! Lebih baik kau lupakan kenangan ibumu yang dulu. Dan sekarang kau adalah kakak dari anak eomma dan appa, Jaehwan." Panjang appa seraya menyentuh bahu Jaehwan yang bergetar.
"Appa, sampai kapanpun juga eommaku adalah yang dulu. Yang telah di kremasi dan terbang dengan kelopak krisantinum di danau beberapa bulan lalu, dan wanita tua ini hanya sebagai ibu tiriku. Aku tidak pernah mengakui kalau aku mempunyai adik seperti Seokjin. Aku hanya mempunyai ibu!" balas Jaehwan seraya meninggalkan ayahnya di tempat. Eomma Seokjin dan Seokjin sendiri hanya bisa terperangah mendengarnya. Terkejut karena Jaehwan memang masih belum bisa menerimanya.
"JAEHWAN!! Jangan kurang ajar kau pada eommamu sekarang!!" Teriak Appa. Eomma langsung memegang tangan appa yang mungkin saja sekarang telah menarik Jaehwan dan memukulnya habis habisan. Eomma juga khawatir appa terkena serangan jantung seperti setahun lalu setelah meninggalnya eomma Jaehwan.
"Sudah, dia butuh suasana tenang. Biarkan Jaehwan sendiri." ujar Eomma sambil menggiring appa dan Seokjin menuju ruang tamu.
------------
Jaehwan membuka sedikit tirai jendelanya. Menampakan cahaya lampu jalanan yang menyorot langsung matanya. Terlihat rerumputan dari jendela kamarnya yang terletak di atas rumah. Tak luput tampak bunga krisantinum yang terlindas tadi. Jaehwan menghela nafasnya sembari mengacak rambutnya.
"Wajah cantik ibu terlindas oleh anak itu, bu." Lirih Jaehwan sambil kembali menutup tirai jendelanya. Dihempaskan tubuhnya yang tinggi menjulang ke kasur empuk bermotif bunga krisantinum. Entah kasurnya terlihat seperti kasur anak perempuan.
"Seungah." Jaehwan terhenyak setelah bibir tebalnya menyebut nama penjual bunga itu.
"Kenapa sekilas aku seperti melihat wajah ibu." Jaehwan kembali terdiam sambil menatap langit rumah yang bersinar oleh lampu di tengahnya. Pikirannya kembali pada ibunya yang sudah meninggal tepat awal musim semi lalu.
Jaehwan memiringkan kepala melihat pintu kamarnya kini sudah terbuka. Tampak sosok laki-laki seumurannya datang menghampirinya. Jaehwan langsung bangkit dari aktivitas tidur santainya. Mata kecoklatannya menatap tajam laki laki yang datang.
"Aku ingin mengatakan kalau aku ingin minta maaf." Ujar laki laki itu. Jaehwan menghela nafasnya sambil kembali menatap tirai kamarnya.
"Sudah ku maafkan, Kim Seok Jin." Jawab Jaehwan yang sekarang merundukkan kepalanya.
"Aku juga ingin katakan, terimalah ibuku dalam hidupmu." Lanjut Seokjin
"Bukankah aku sudah mengatakan sejak ibumu datang dalam hidup keluargaku, Jelas aku menerimanya sebagai istri ayahku." Panjang Jaehwan sambil menatap Seokjin. Kedua tangannya pun masuk kedalam saku celananya. Seokjin tahu sekali kalau Jaehwan sedang tidak mau mendengar apapun darinya.
"Semenjak ayahku meninggal, aku kasihan pada ibuku yang selalu sedih. Tetapi setelah bertemu ayahmu, ibuku seperti kembali ke semula. Akhirnya aku menerima ayahmu untuk menjadi suami ibuku, Sekaligus........" Seokjin menghentikan ucapannya sebelum Jaehwan menunjukkan tatapan bertanya namun berujung ketidaksukaannya pada penjelasan Seokjin. Sialnya lidah Seokjin benar benar kaku sekarang setelah Jaehwan memang benar ingin mendengar kelanjutan ucapannya. Giginya tanpa sadar menggeretak dan membuat helaan nafas yang keluar dari mulutnya.
"Kau ingin mengatakan agar aku menganggap ibumu sebagai ibuku juga?" Seru Jaehwan yang berhasil membuat jantung Seokjin melompat lebih cepat. Kembali deru kasar nafasnya keluar agar dia bisa menjawab ucapan Jaehwan yang begitu tajam dan kukuh di dengarnya. Bahkan ibunya sendiripun tak pernah mengatakan hal spontan itu padanya.
"Ya."
"Aku tak bisa. Sejak hari kremasi ibuku, aku tak akan bisa. Seharusnya beruntung kau dan ibumu di terima dalam hidup ayahku." Ucap Jaehwan. ditambah dia memainkan jari telunjuknya tepat beberapa senti dari hidung Seokjin. Sebuah mantel berbahan wol kulit kebiruan yang menggantung mengiringi langkah kaki Jaehwan untuk keluar kamar meninggalkan Seokjin.
----
Sepasang mata tak hentinya mengalirkan tetesan air bak gerimis yang tak diundang. Matanya nanar melihat kini tangan kanannya memegang debu putih keabuan yang mulai berterbangan seiring helaian helaian kecil kelopak bunga Krisantinum yang di lemparkan oleh orang di sampingnya.
Ini adalah musim yang buruk bagi Jaehwan yang kini masih berumur 15 tahun. Seharusnya awal musim semi yang bisa dia manfaatkan untuk berlibur bersama ibunya setelah terpendam dalam dinginnya kota Seoul oleh hujan salju. Justru tepat di awal musim, deretan orang berpakaian warna hitam dan bunga karangan menghiasi matanya yang tak pernah henti mengingat kenangannya di hari yang terlewati. Selalu mengalir ucapan ucapan belasungkawa yang terpaksa membuatnya untuk bertabah dan tidak menangis mendengarnya.
Debu hasil kremasi ibunya yang hampir semuanya tertiup angin sejuk danau di Jin Ahn City, membuat dirinya semakin goyah tak sanggup untuk menghanyutkan kendi tanah liat yang berisi sisa sisa kecil debu di dalamnya. Tubuhnya bergetar dan menangis sejadi jadinya dalam pelukan ayahnya yang setia membuat Jaehwan tegar dan sadar akan kenyataan bahwa dirinya sudah ditinggal oleh ibu tercintanya.
"Ibu !!!"
----
"Yang benar saja? Jadi presdir Lee sudah memiliki pengganti mendiang istrinya? Aku iba pada Jaehwan karena harus menerima ibu barunya."
Ucapan menyakitkan muncul dan membuat gendang telinganya harus mengiang karena ucapan ucapan tajam mengenai ibu barunya. Dirinya masih terisak dan harus merasakan sesak di dadanya membuat dirinya harus menunggu dalam mobil Hyundai Equus Limousine hitam ayahnya. Padahal masih beberapa jam lagi dirinya baru bisa pulang setelah jamuan bela sungkawa untuk mendiang ibunya.
Tiba tiba saja sosok panutannya datang. Membuka pintu mobil jaguarnya dan berjongkok menyetarai kaki Jaehwan yang menggantung di jok mobil depan.
"Segeralah keluar, ada seseorang yang ingin appa tunjukkan padamu." ujar lelaki tua yang mulai menunjukkan rambut keputihan di kepalanya. Tanpa basa basi Jaehwan menganggukkan kepalanya pelan dan mengikuti lelaki tua yang mendahuluinya.
---
Jaehwan terdiam seseorang yang sejajarnya berdiri dihadapannya. Matanya diedarkan dari ujung kaki hingga ujung kepala demi mencari tahu siapa dia. Balutan sepatu vantoefl hitam, mantel kulit seragam serta rambut yang sedikit short and slick dan berwarna kecoklatan semakin membuat Jaehwan terhenyak  melihatnya. Jaehwan sedikit menatap aneh orang itu ketika dia tersenyum bahagia padanya. Jaehwan kembali merunduk menunggu ayahnya benar benar memperkenalkan seseorang dihadapannya kini.
"Jaehwan."
Jaehwan mendongakan kepalanya setelah mendengar suara cirikhas ayahnya. Entah tatapannya telah berubah setelah melihat seorang wanita berdiri disamping seseorang di depannya.
"Ibu baru?" tanya Jaehwan kepada ayahnya yang sedang menyetarakan diri dengan kepala Jaehwan. Lelaki tua itu mengangguk tentang pertanyaan Jaehwan padanya. Jaehwan menatap seseorang di depannya lagi.
"Ini saudara tirimu, Kim Seok Jin." Ujar ayah
"Namaku Seokjin."

"Kau bilang ini sepele? Kalau kau merusak bunga Krisantinum, sama saja kau menghina ibuku!"
Seokjin terdiam mendengar ucapan Jaehwan. Terasa berat dirinya untuk mengambil nafas sesekali saja. Jaehwan sendiri menatap tajam mata coklat Seokjin. Tiba tiba saja sang tuan rumah datang dengan wajah terkejutnya. Melempar sebuket bunga Krisantinum yang masih terlihat sehat yang mungkin saja tidak terkena langsung bertabrakan mobil Seokjin.
"Berhenti Seokjin, Jaehwan!!" Amarah Sang tuan rumah meluap seiring Jaehwan yang memungut sebuket bunga di lantai rumahnya. Seokjin segera bangkit dari kursi makan dan menatap tuan rumah yang sudah beruban itu datar. Jaehwan menatap nanar pria tua itu, tangannya kembali bergetar.
"Bagaimana bisa berhenti appa, aku takkan rela bunga kesayangan ibu dirusak seperti ini." Jawab Jaehwan sambil menunjuk beberapa kali sebuket bunga itu pada tuan rumah yang memang appanya sendiri.
"Wanita di sampingku ini juga ibumu! Lebih baik kau lupakan kenangan ibumu yang dulu. Dan sekarang kau adalah kakak dari anak eomma dan appa, Jaehwan." Panjang appa seraya menyentuh bahu Jaehwan yang bergetar.
"Appa, sampai kapanpun juga eommaku adalah yang dulu. Yang telah di kremasi dan terbang dengan kelopak krisantinum di danau beberapa bulan lalu, dan wanita tua ini hanya sebagai ibu tiriku. Aku tidak pernah mengakui kalau aku mempunyai adik seperti Seokjin. Aku hanya mempunyai ibu!" balas Jaehwan seraya meninggalkan ayahnya di tempat. Eomma Seokjin dan Seokjin sendiri hanya bisa terperangah mendengarnya. Terkejut karena Jaehwan memang masih belum bisa menerimanya.
"JAEHWAN!! Jangan kurang ajar kau pada eommamu sekarang!!" Teriak Appa. Eomma langsung memegang tangan appa yang mungkin saja sekarang telah menarik Jaehwan dan memukulnya habis habisan. Eomma juga khawatir appa terkena serangan jantung seperti setahun lalu setelah meninggalnya eomma Jaehwan.
"Sudah, dia butuh suasana tenang. Biarkan Jaehwan sendiri." ujar Eomma sambil menggiring appa dan Seokjin menuju ruang tamu.
------------
Jaehwan membuka sedikit tirai jendelanya. Menampakan cahaya lampu jalanan yang menyorot langsung matanya. Terlihat rerumputan dari jendela kamarnya yang terletak di atas rumah. Tak luput tampak bunga krisantinum yang terlindas tadi. Jaehwan menghela nafasnya sembari mengacak rambutnya.
"Wajah cantik ibu terlindas oleh anak itu, bu." Lirih Jaehwan sambil kembali menutup tirai jendelanya. Dihempaskan tubuhnya yang tinggi menjulang ke kasur empuk bermotif bunga krisantinum. Entah kasurnya terlihat seperti kasur anak perempuan.
"Seungah." Jaehwan terhenyak setelah bibir tebalnya menyebut nama penjual bunga itu.
"Kenapa sekilas aku seperti melihat wajah ibu." Jaehwan kembali terdiam sambil menatap langit rumah yang bersinar oleh lampu di tengahnya. Pikirannya kembali pada ibunya yang sudah meninggal tepat awal musim semi lalu.
Jaehwan memiringkan kepala melihat pintu kamarnya kini sudah terbuka. Tampak sosok laki-laki seumurannya datang menghampirinya. Jaehwan langsung bangkit dari aktivitas tidur santainya. Mata kecoklatannya menatap tajam laki laki yang datang.
"Aku ingin mengatakan kalau aku ingin minta maaf." Ujar laki laki itu. Jaehwan menghela nafasnya sambil kembali menatap tirai kamarnya.
"Sudah ku maafkan, Kim Seok Jin." Jawab Jaehwan yang sekarang merundukkan kepalanya.
"Aku juga ingin katakan, terimalah ibuku dalam hidupmu." Lanjut Seokjin
"Bukankah aku sudah mengatakan sejak ibumu datang dalam hidup keluargaku, Jelas aku menerimanya sebagai istri ayahku." Panjang Jaehwan sambil menatap Seokjin. Kedua tangannya pun masuk kedalam saku celananya. Seokjin tahu sekali kalau Jaehwan sedang tidak mau mendengar apapun darinya.
"Semenjak ayahku meninggal, aku kasihan pada ibuku yang selalu sedih. Tetapi setelah bertemu ayahmu, ibuku seperti kembali ke semula. Akhirnya aku menerima ayahmu untuk menjadi suami ibuku, Sekaligus........" Seokjin menghentikan ucapannya sebelum Jaehwan menunjukkan tatapan bertanya namun berujung ketidaksukaannya pada penjelasan Seokjin. Sialnya lidah Seokjin benar benar kaku sekarang setelah Jaehwan memang benar ingin mendengar kelanjutan ucapannya. Giginya tanpa sadar menggeretak dan membuat helaan nafas yang keluar dari mulutnya.
"Kau ingin mengatakan agar aku menganggap ibumu sebagai ibuku juga?" Seru Jaehwan yang berhasil membuat jantung Seokjin melompat lebih cepat. Kembali deru kasar nafasnya keluar agar dia bisa menjawab ucapan Jaehwan yang begitu tajam dan kukuh di dengarnya. Bahkan ibunya sendiripun tak pernah mengatakan hal spontan itu padanya.
"Ya."
"Aku tak bisa. Sejak hari kremasi ibuku, aku tak akan bisa. Seharusnya beruntung kau dan ibumu di terima dalam hidup ayahku." Ucap Jaehwan. ditambah dia memainkan jari telunjuknya tepat beberapa senti dari hidung Seokjin. Sebuah mantel berbahan wol kulit kebiruan yang menggantung mengiringi langkah kaki Jaehwan untuk keluar kamar meninggalkan Seokjin.
----
Sepasang mata tak hentinya mengalirkan tetesan air bak gerimis yang tak diundang. Matanya nanar melihat kini tangan kanannya memegang debu putih keabuan yang mulai berterbangan seiring helaian helaian kecil kelopak bunga Krisantinum yang di lemparkan oleh orang di sampingnya.
Ini adalah musim yang buruk bagi Jaehwan yang kini masih berumur 15 tahun. Seharusnya awal musim semi yang bisa dia manfaatkan untuk berlibur bersama ibunya setelah terpendam dalam dinginnya kota Seoul oleh hujan salju. Justru tepat di awal musim, deretan orang berpakaian warna hitam dan bunga karangan menghiasi matanya yang tak pernah henti mengingat kenangannya di hari yang terlewati. Selalu mengalir ucapan ucapan belasungkawa yang terpaksa membuatnya untuk bertabah dan tidak menangis mendengarnya.
Debu hasil kremasi ibunya yang hampir semuanya tertiup angin sejuk danau di Jin Ahn City, membuat dirinya semakin goyah tak sanggup untuk menghanyutkan kendi tanah liat yang berisi sisa sisa kecil debu di dalamnya. Tubuhnya bergetar dan menangis sejadi jadinya dalam pelukan ayahnya yang setia membuat Jaehwan tegar dan sadar akan kenyataan bahwa dirinya sudah ditinggal oleh ibu tercintanya.
"Ibu !!!"
----
"Yang benar saja? Jadi presdir Lee sudah memiliki pengganti mendiang istrinya? Aku iba pada Jaehwan karena harus menerima ibu barunya."
Ucapan menyakitkan muncul dan membuat gendang telinganya harus mengiang karena ucapan ucapan tajam mengenai ibu barunya. Dirinya masih terisak dan harus merasakan sesak di dadanya membuat dirinya harus menunggu dalam mobil Hyundai Equus Limousine hitam ayahnya. Padahal masih beberapa jam lagi dirinya baru bisa pulang setelah jamuan bela sungkawa untuk mendiang ibunya.
Tiba tiba saja sosok panutannya datang. Membuka pintu mobil jaguarnya dan berjongkok menyetarai kaki Jaehwan yang menggantung di jok mobil depan.
"Segeralah keluar, ada seseorang yang ingin appa tunjukkan padamu." ujar lelaki tua yang mulai menunjukkan rambut keputihan di kepalanya. Tanpa basa basi Jaehwan menganggukkan kepalanya pelan dan mengikuti lelaki tua yang mendahuluinya.
---
Jaehwan terdiam seseorang yang sejajarnya berdiri dihadapannya. Matanya diedarkan dari ujung kaki hingga ujung kepala demi mencari tahu siapa dia. Balutan sepatu vantoefl hitam, mantel kulit seragam serta rambut yang sedikit short and slick dan berwarna kecoklatan semakin membuat Jaehwan terhenyak  melihatnya. Jaehwan sedikit menatap aneh orang itu ketika dia tersenyum bahagia padanya. Jaehwan kembali merunduk menunggu ayahnya benar benar memperkenalkan seseorang dihadapannya kini.
"Jaehwan."
Jaehwan mendongakan kepalanya setelah mendengar suara cirikhas ayahnya. Entah tatapannya telah berubah setelah melihat seorang wanita berdiri disamping seseorang di depannya.
"Ibu baru?" tanya Jaehwan kepada ayahnya yang sedang menyetarakan diri dengan kepala Jaehwan. Lelaki tua itu mengangguk tentang pertanyaan Jaehwan padanya. Jaehwan menatap seseorang di depannya lagi.
"Ini saudara tirimu, Kim Seok Jin." Ujar ayah
"Namaku Seokjin."

---------------

To Be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar