Crysantinum :: Fanfiction VIXX - Rainbow :: Part 2
Cast : Lee Jae Hwan
A.K.A Ken VIXX
Oh Se Mi A.K.A Seungah Rainbow
Oh Se Mi A.K.A Seungah Rainbow
Kim Seok Jin A.K.A Jin BTS
Bang Min Ah A.K.A Minah Girls Day
Other Cast : Find it
Lenght : Part
Rating : PG-15
Genre : Family, Romance, Sad etc.
Author : ISTRI BYUN BAEK HYUN A.K.A YK
Author : ISTRI BYUN BAEK HYUN A.K.A YK
Disclaimer : Tuhan yang maha ESA, semua cast milik orang tuanya. Ini OOC,
EYD berantakan, maafkan kami/? Don’t be silent reader yoooo don’t copy paste
waks
Summary : Jaehwan seorang anak yang sama sekali tidak menganggap istri baru ayahnya sebagai ibu tirinya. Seungah yang tak bisa melihat dianggap Jaehwan mirip dengan ibu kandungnya.
Happy reading guys. leave a your coment after your read!!
"Kau bilang ini sepele? Kalau kau merusak bunga Krisantinum, sama saja kau menghina ibuku!"
Seokjin terdiam mendengar ucapan Jaehwan. Terasa berat
dirinya untuk mengambil nafas sesekali saja. Jaehwan sendiri menatap
tajam mata coklat Seokjin. Tiba tiba saja sang tuan rumah datang dengan
wajah terkejutnya. Melempar sebuket bunga Krisantinum yang masih
terlihat sehat yang mungkin saja tidak terkena langsung tabrakan mobil
Seokjin.
"Berhenti Seokjin, Jaehwan!!" Amarah Sang tuan rumah meluap
seiring Jaehwan yang memungut sebuket bunga di lantai rumahnya. Seokjin
segera bangkit dari kursi makan dan menatap tuan rumah yang sudah
beruban itu datar. Jaehwan menatap nanar pria tua itu, tangannya kembali
bergetar.
"Bagaimana bisa berhenti appa, aku takkan rela bunga
kesayangan ibu dirusak seperti ini." Jawab Jaehwan sambil menunjuk
beberapa kali sebuket bunga itu pada tuan rumah yang memang appanya
sendiri.
"Wanita di sampingku ini juga ibumu! Lebih baik kau lupakan
kenangan ibumu yang dulu. Dan sekarang kau adalah kakak dari anak eomma
dan appa, Jaehwan." Panjang appa seraya menyentuh bahu Jaehwan yang
bergetar.
"Appa, sampai kapanpun juga eommaku adalah yang dulu. Yang
telah di kremasi dan terbang dengan kelopak krisantinum di danau
beberapa bulan lalu, dan wanita tua ini hanya sebagai ibu tiriku. Aku
tidak pernah mengakui kalau aku mempunyai adik seperti Seokjin. Aku
hanya mempunyai ibu!" balas Jaehwan seraya meninggalkan ayahnya di
tempat. Eomma Seokjin dan Seokjin sendiri hanya bisa terperangah
mendengarnya. Terkejut karena Jaehwan memang masih belum bisa
menerimanya.
"JAEHWAN!! Jangan kurang ajar kau pada eommamu sekarang!!"
Teriak Appa. Eomma langsung memegang tangan appa yang mungkin saja
sekarang telah menarik Jaehwan dan memukulnya habis habisan. Eomma juga
khawatir appa terkena serangan jantung seperti setahun lalu setelah
meninggalnya eomma Jaehwan.
"Sudah, dia butuh suasana tenang. Biarkan Jaehwan sendiri." ujar Eomma sambil menggiring appa dan Seokjin menuju ruang tamu.
------------
------------
Jaehwan membuka sedikit tirai jendelanya. Menampakan cahaya
lampu jalanan yang menyorot langsung matanya. Terlihat rerumputan dari
jendela kamarnya yang terletak di atas rumah. Tak luput tampak bunga
krisantinum yang terlindas tadi. Jaehwan menghela nafasnya sembari
mengacak rambutnya.
"Wajah cantik ibu terlindas oleh anak itu, bu." Lirih
Jaehwan sambil kembali menutup tirai jendelanya. Dihempaskan tubuhnya
yang tinggi menjulang ke kasur empuk bermotif bunga krisantinum. Entah
kasurnya terlihat seperti kasur anak perempuan.
"Seungah." Jaehwan terhenyak setelah bibir tebalnya menyebut nama penjual bunga itu.
"Kenapa sekilas aku seperti melihat wajah ibu." Jaehwan
kembali terdiam sambil menatap langit rumah yang bersinar oleh lampu di
tengahnya. Pikirannya kembali pada ibunya yang sudah meninggal tepat
awal musim semi lalu.
Jaehwan memiringkan kepala melihat pintu kamarnya kini
sudah terbuka. Tampak sosok laki-laki seumurannya datang menghampirinya.
Jaehwan langsung bangkit dari aktivitas tidur santainya. Mata
kecoklatannya menatap tajam laki laki yang datang.
"Aku ingin mengatakan kalau aku ingin minta maaf." Ujar
laki laki itu. Jaehwan menghela nafasnya sambil kembali menatap tirai
kamarnya.
"Sudah ku maafkan, Kim Seok Jin." Jawab Jaehwan yang sekarang merundukkan kepalanya.
"Aku juga ingin katakan, terimalah ibuku dalam hidupmu." Lanjut Seokjin
"Bukankah aku sudah mengatakan sejak ibumu datang dalam
hidup keluargaku, Jelas aku menerimanya sebagai istri ayahku." Panjang
Jaehwan sambil menatap Seokjin. Kedua tangannya pun masuk kedalam saku
celananya. Seokjin tahu sekali kalau Jaehwan sedang tidak mau mendengar
apapun darinya.
"Semenjak ayahku meninggal, aku kasihan pada ibuku yang
selalu sedih. Tetapi setelah bertemu ayahmu, ibuku seperti kembali ke
semula. Akhirnya aku menerima ayahmu untuk menjadi suami ibuku,
Sekaligus........" Seokjin menghentikan ucapannya sebelum Jaehwan
menunjukkan tatapan bertanya namun berujung ketidaksukaannya pada
penjelasan Seokjin. Sialnya lidah Seokjin benar benar kaku sekarang
setelah Jaehwan memang benar ingin mendengar kelanjutan ucapannya.
Giginya tanpa sadar menggeretak dan membuat helaan nafas yang keluar
dari mulutnya.
"Kau ingin mengatakan agar aku menganggap ibumu sebagai
ibuku juga?" Seru Jaehwan yang berhasil membuat jantung Seokjin melompat
lebih cepat. Kembali deru kasar nafasnya keluar agar dia bisa menjawab
ucapan Jaehwan yang begitu tajam dan kukuh di dengarnya. Bahkan ibunya
sendiripun tak pernah mengatakan hal spontan itu padanya.
"Ya."
"Aku tak bisa. Sejak hari kremasi ibuku, aku tak akan bisa.
Seharusnya beruntung kau dan ibumu di terima dalam hidup ayahku." Ucap
Jaehwan. ditambah dia memainkan jari telunjuknya tepat beberapa senti
dari hidung Seokjin. Sebuah mantel berbahan wol kulit kebiruan yang
menggantung mengiringi langkah kaki Jaehwan untuk keluar kamar
meninggalkan Seokjin.
----
Sepasang mata tak hentinya mengalirkan tetesan air bak
gerimis yang tak diundang. Matanya nanar melihat kini tangan kanannya
memegang debu putih keabuan yang mulai berterbangan seiring helaian
helaian kecil kelopak bunga Krisantinum yang di lemparkan oleh orang di
sampingnya.
Ini adalah musim yang buruk bagi Jaehwan yang kini masih
berumur 15 tahun. Seharusnya awal musim semi yang bisa dia manfaatkan
untuk berlibur bersama ibunya setelah terpendam dalam dinginnya kota
Seoul oleh hujan salju. Justru tepat di awal musim, deretan orang
berpakaian warna hitam dan bunga karangan menghiasi matanya yang tak
pernah henti mengingat kenangannya di hari yang terlewati. Selalu
mengalir ucapan ucapan belasungkawa yang terpaksa membuatnya untuk
bertabah dan tidak menangis mendengarnya.
Debu hasil kremasi ibunya yang hampir semuanya tertiup
angin sejuk danau di Jin Ahn City, membuat dirinya semakin goyah tak
sanggup untuk menghanyutkan kendi tanah liat yang berisi sisa sisa kecil
debu di dalamnya. Tubuhnya bergetar dan menangis sejadi jadinya dalam
pelukan ayahnya yang setia membuat Jaehwan tegar dan sadar akan
kenyataan bahwa dirinya sudah ditinggal oleh ibu tercintanya.
"Ibu !!!"
----
"Yang benar saja? Jadi presdir Lee sudah memiliki pengganti
mendiang istrinya? Aku iba pada Jaehwan karena harus menerima ibu
barunya."
Ucapan menyakitkan muncul dan membuat gendang telinganya
harus mengiang karena ucapan ucapan tajam mengenai ibu barunya. Dirinya
masih terisak dan harus merasakan sesak di dadanya membuat dirinya harus
menunggu dalam mobil Hyundai Equus Limousine hitam ayahnya. Padahal
masih beberapa jam lagi dirinya baru bisa pulang setelah jamuan bela
sungkawa untuk mendiang ibunya.
Tiba tiba saja sosok panutannya datang. Membuka pintu mobil
jaguarnya dan berjongkok menyetarai kaki Jaehwan yang menggantung di
jok mobil depan.
"Segeralah keluar, ada seseorang yang ingin appa tunjukkan
padamu." ujar lelaki tua yang mulai menunjukkan rambut keputihan di
kepalanya. Tanpa basa basi Jaehwan menganggukkan kepalanya pelan dan
mengikuti lelaki tua yang mendahuluinya.
---
Jaehwan terdiam seseorang yang sejajarnya berdiri
dihadapannya. Matanya diedarkan dari ujung kaki hingga ujung kepala demi
mencari tahu siapa dia. Balutan sepatu vantoefl hitam, mantel kulit
seragam serta rambut yang sedikit short and slick dan berwarna
kecoklatan semakin membuat Jaehwan terhenyak melihatnya. Jaehwan
sedikit menatap aneh orang itu ketika dia tersenyum bahagia padanya.
Jaehwan kembali merunduk menunggu ayahnya benar benar memperkenalkan
seseorang dihadapannya kini.
"Jaehwan."
Jaehwan mendongakan kepalanya setelah mendengar suara
cirikhas ayahnya. Entah tatapannya telah berubah setelah melihat seorang
wanita berdiri disamping seseorang di depannya.
"Ibu baru?" tanya Jaehwan kepada ayahnya yang sedang
menyetarakan diri dengan kepala Jaehwan. Lelaki tua itu mengangguk
tentang pertanyaan Jaehwan padanya. Jaehwan menatap seseorang di
depannya lagi.
"Ini saudara tirimu, Kim Seok Jin." Ujar ayah
"Namaku Seokjin."
"Kau bilang ini sepele? Kalau kau merusak bunga Krisantinum, sama saja kau menghina ibuku!"
Seokjin terdiam mendengar ucapan Jaehwan. Terasa berat
dirinya untuk mengambil nafas sesekali saja. Jaehwan sendiri menatap
tajam mata coklat Seokjin. Tiba tiba saja sang tuan rumah datang dengan
wajah terkejutnya. Melempar sebuket bunga Krisantinum yang masih
terlihat sehat yang mungkin saja tidak terkena langsung bertabrakan mobil
Seokjin.
"Berhenti Seokjin, Jaehwan!!" Amarah Sang tuan rumah meluap
seiring Jaehwan yang memungut sebuket bunga di lantai rumahnya. Seokjin
segera bangkit dari kursi makan dan menatap tuan rumah yang sudah
beruban itu datar. Jaehwan menatap nanar pria tua itu, tangannya kembali
bergetar.
"Bagaimana bisa berhenti appa, aku takkan rela bunga
kesayangan ibu dirusak seperti ini." Jawab Jaehwan sambil menunjuk
beberapa kali sebuket bunga itu pada tuan rumah yang memang appanya
sendiri.
"Wanita di sampingku ini juga ibumu! Lebih baik kau lupakan
kenangan ibumu yang dulu. Dan sekarang kau adalah kakak dari anak eomma
dan appa, Jaehwan." Panjang appa seraya menyentuh bahu Jaehwan yang
bergetar.
"Appa, sampai kapanpun juga eommaku adalah yang dulu. Yang
telah di kremasi dan terbang dengan kelopak krisantinum di danau
beberapa bulan lalu, dan wanita tua ini hanya sebagai ibu tiriku. Aku
tidak pernah mengakui kalau aku mempunyai adik seperti Seokjin. Aku
hanya mempunyai ibu!" balas Jaehwan seraya meninggalkan ayahnya di
tempat. Eomma Seokjin dan Seokjin sendiri hanya bisa terperangah
mendengarnya. Terkejut karena Jaehwan memang masih belum bisa
menerimanya.
"JAEHWAN!! Jangan kurang ajar kau pada eommamu sekarang!!"
Teriak Appa. Eomma langsung memegang tangan appa yang mungkin saja
sekarang telah menarik Jaehwan dan memukulnya habis habisan. Eomma juga
khawatir appa terkena serangan jantung seperti setahun lalu setelah
meninggalnya eomma Jaehwan.
"Sudah, dia butuh suasana tenang. Biarkan Jaehwan sendiri." ujar Eomma sambil menggiring appa dan Seokjin menuju ruang tamu.
------------
------------
Jaehwan membuka sedikit tirai jendelanya. Menampakan cahaya
lampu jalanan yang menyorot langsung matanya. Terlihat rerumputan dari
jendela kamarnya yang terletak di atas rumah. Tak luput tampak bunga
krisantinum yang terlindas tadi. Jaehwan menghela nafasnya sembari
mengacak rambutnya.
"Wajah cantik ibu terlindas oleh anak itu, bu." Lirih
Jaehwan sambil kembali menutup tirai jendelanya. Dihempaskan tubuhnya
yang tinggi menjulang ke kasur empuk bermotif bunga krisantinum. Entah
kasurnya terlihat seperti kasur anak perempuan.
"Seungah." Jaehwan terhenyak setelah bibir tebalnya menyebut nama penjual bunga itu.
"Kenapa sekilas aku seperti melihat wajah ibu." Jaehwan
kembali terdiam sambil menatap langit rumah yang bersinar oleh lampu di
tengahnya. Pikirannya kembali pada ibunya yang sudah meninggal tepat
awal musim semi lalu.
Jaehwan memiringkan kepala melihat pintu kamarnya kini
sudah terbuka. Tampak sosok laki-laki seumurannya datang menghampirinya.
Jaehwan langsung bangkit dari aktivitas tidur santainya. Mata
kecoklatannya menatap tajam laki laki yang datang.
"Aku ingin mengatakan kalau aku ingin minta maaf." Ujar
laki laki itu. Jaehwan menghela nafasnya sambil kembali menatap tirai
kamarnya.
"Sudah ku maafkan, Kim Seok Jin." Jawab Jaehwan yang sekarang merundukkan kepalanya.
"Aku juga ingin katakan, terimalah ibuku dalam hidupmu." Lanjut Seokjin
"Bukankah aku sudah mengatakan sejak ibumu datang dalam
hidup keluargaku, Jelas aku menerimanya sebagai istri ayahku." Panjang
Jaehwan sambil menatap Seokjin. Kedua tangannya pun masuk kedalam saku
celananya. Seokjin tahu sekali kalau Jaehwan sedang tidak mau mendengar
apapun darinya.
"Semenjak ayahku meninggal, aku kasihan pada ibuku yang
selalu sedih. Tetapi setelah bertemu ayahmu, ibuku seperti kembali ke
semula. Akhirnya aku menerima ayahmu untuk menjadi suami ibuku,
Sekaligus........" Seokjin menghentikan ucapannya sebelum Jaehwan
menunjukkan tatapan bertanya namun berujung ketidaksukaannya pada
penjelasan Seokjin. Sialnya lidah Seokjin benar benar kaku sekarang
setelah Jaehwan memang benar ingin mendengar kelanjutan ucapannya.
Giginya tanpa sadar menggeretak dan membuat helaan nafas yang keluar
dari mulutnya.
"Kau ingin mengatakan agar aku menganggap ibumu sebagai
ibuku juga?" Seru Jaehwan yang berhasil membuat jantung Seokjin melompat
lebih cepat. Kembali deru kasar nafasnya keluar agar dia bisa menjawab
ucapan Jaehwan yang begitu tajam dan kukuh di dengarnya. Bahkan ibunya
sendiripun tak pernah mengatakan hal spontan itu padanya.
"Ya."
"Aku tak bisa. Sejak hari kremasi ibuku, aku tak akan bisa.
Seharusnya beruntung kau dan ibumu di terima dalam hidup ayahku." Ucap
Jaehwan. ditambah dia memainkan jari telunjuknya tepat beberapa senti
dari hidung Seokjin. Sebuah mantel berbahan wol kulit kebiruan yang
menggantung mengiringi langkah kaki Jaehwan untuk keluar kamar
meninggalkan Seokjin.
----
Sepasang mata tak hentinya mengalirkan tetesan air bak
gerimis yang tak diundang. Matanya nanar melihat kini tangan kanannya
memegang debu putih keabuan yang mulai berterbangan seiring helaian
helaian kecil kelopak bunga Krisantinum yang di lemparkan oleh orang di
sampingnya.
Ini adalah musim yang buruk bagi Jaehwan yang kini masih
berumur 15 tahun. Seharusnya awal musim semi yang bisa dia manfaatkan
untuk berlibur bersama ibunya setelah terpendam dalam dinginnya kota
Seoul oleh hujan salju. Justru tepat di awal musim, deretan orang
berpakaian warna hitam dan bunga karangan menghiasi matanya yang tak
pernah henti mengingat kenangannya di hari yang terlewati. Selalu
mengalir ucapan ucapan belasungkawa yang terpaksa membuatnya untuk
bertabah dan tidak menangis mendengarnya.
Debu hasil kremasi ibunya yang hampir semuanya tertiup
angin sejuk danau di Jin Ahn City, membuat dirinya semakin goyah tak
sanggup untuk menghanyutkan kendi tanah liat yang berisi sisa sisa kecil
debu di dalamnya. Tubuhnya bergetar dan menangis sejadi jadinya dalam
pelukan ayahnya yang setia membuat Jaehwan tegar dan sadar akan
kenyataan bahwa dirinya sudah ditinggal oleh ibu tercintanya.
"Ibu !!!"
----
"Yang benar saja? Jadi presdir Lee sudah memiliki pengganti
mendiang istrinya? Aku iba pada Jaehwan karena harus menerima ibu
barunya."
Ucapan menyakitkan muncul dan membuat gendang telinganya
harus mengiang karena ucapan ucapan tajam mengenai ibu barunya. Dirinya
masih terisak dan harus merasakan sesak di dadanya membuat dirinya harus
menunggu dalam mobil Hyundai Equus Limousine hitam ayahnya. Padahal
masih beberapa jam lagi dirinya baru bisa pulang setelah jamuan bela
sungkawa untuk mendiang ibunya.
Tiba tiba saja sosok panutannya datang. Membuka pintu mobil
jaguarnya dan berjongkok menyetarai kaki Jaehwan yang menggantung di
jok mobil depan.
"Segeralah keluar, ada seseorang yang ingin appa tunjukkan
padamu." ujar lelaki tua yang mulai menunjukkan rambut keputihan di
kepalanya. Tanpa basa basi Jaehwan menganggukkan kepalanya pelan dan
mengikuti lelaki tua yang mendahuluinya.
---
Jaehwan terdiam seseorang yang sejajarnya berdiri
dihadapannya. Matanya diedarkan dari ujung kaki hingga ujung kepala demi
mencari tahu siapa dia. Balutan sepatu vantoefl hitam, mantel kulit
seragam serta rambut yang sedikit short and slick dan berwarna
kecoklatan semakin membuat Jaehwan terhenyak melihatnya. Jaehwan
sedikit menatap aneh orang itu ketika dia tersenyum bahagia padanya.
Jaehwan kembali merunduk menunggu ayahnya benar benar memperkenalkan
seseorang dihadapannya kini.
"Jaehwan."
Jaehwan mendongakan kepalanya setelah mendengar suara
cirikhas ayahnya. Entah tatapannya telah berubah setelah melihat seorang
wanita berdiri disamping seseorang di depannya.
"Ibu baru?" tanya Jaehwan kepada ayahnya yang sedang
menyetarakan diri dengan kepala Jaehwan. Lelaki tua itu mengangguk
tentang pertanyaan Jaehwan padanya. Jaehwan menatap seseorang di
depannya lagi.
"Ini saudara tirimu, Kim Seok Jin." Ujar ayah
"Namaku Seokjin."
---------------
To Be Continued....
To Be Continued....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar